Hari terus berjalan, tidak hanya hari bahkan bulan, dan bertahun-tahun. Sudah lebih 8 tahun aku di kota ini. Kota yang katanya mampu menghangatkan karena cuaca dan panas terik di kota ini sangat menyengat. Selama tinggal disini aku memang merasakan panasnya cuaca, namun tidak untuk menghangatkan hati itu sendiri. Kalian bayangkan rasanya terdampar, dan berjuang sekuat tenaga demi bisa berkelangsungan hidup yang baik, namun selebihnya bukan hanya itu karena ini demi bisa menyenangkan hati yang berjuang selama 8 tahun ini. Tapi apa yang aku perbuat selalu salah, salah, salah, dan benar. Ada 3 salah dan 1 benar. Karena menurutnya lebih banyak kesalahan yang kuperbuat dalam kehidupanku.
Hello teman - teman seperjuangan, perkenalkan namaku Namira Adelwis. Kalian bisa memanggilku nam atau el atau juga adel atau terserah kalian. Saat aku membuat kisah ini aku sedang berumur 20 tahun. Tak kusangka umurku terlalu cepat berlalu. Aku bukan berada di fase anak - anak, dan remaja lagi, tapi sudah masuk ke tahap fase dewasa awal. Entah kenapa 5 bulan ini adalah hari - hari terberat yang kurasakan. Aku harus menahan sabar, merelakan apa yang seharusnya ada di dalam diri ini. Mohon maaf kesabaranku bukan seperti kesabaran para nabi, bukan juga seperti rasul. Aku manusia biasa. Bisa marah bisa benci bisa suka bisa meledak-ledak bisa semua hal yang aku mau. Ini ceritaku, kalian cukup dengar apa yang aku kisahkan. Setelah selesai membaca kisah ini kalian diperbolehkan mengeluarkan pendapat dan argumen kalian tentang aku. Baik itu bagus atau enggak, aku serahkan ke kalian.
Aku rindu sama hal yang telah berlalu, terlebih lagi kenangan yang telah terjadi, dan tidak bisa diputar lagi. Aku ingin menjadi anak kecil yang tidak tahu apa-apa, yang tidak mengerti persoalan orang dewasa. Yang hanya ingin bermain dan hanya memikirkan permainan. Aku tau aku enggak baik, tapi aku tidak mau disebut jahat dan buruk. Telingaku terlalu lelah mendengar hal-hal buruk yang disampaikan orang-orang. 5 bulan ini ada yang tinggal di rumah nenekku. Mereka ada 4 oramg. Aku bisa sabar pada awalnya, namun setelah melihat apa yang terjadi di depan mataku, aku mulai lelah, capek, penat dengan tingkah mereka. Apakah harus selalu dibilang semuanya baru sadar? Ku rasa juga kalian enggak akan sadar-sadar. Jika kalian membaca kisah ini, maafkan aku, aku ingatkan sekali lagi, aku bukanlah orang baik. Aku baru memulai menjadi orang baik. Kalian tahu rasanya jadi aku? Udahlah, kalian gak akan tahu. Ini tentang kalian, kalian yang gak tahu arti kehidupan yang sebenarnya, kalian yang menganggap semuanya akan baik-baik saja, kalian yang membuat darahku selalu naik, kalian yang tidak tahu caranya berterimakasih, kalian yang tidak tahu bagaimana caranya bersyukur, kalian yang tidak tahu penatnya berjuang!
Pertanyaannya, bagaimana kalian mau disayang sama orang lain kalau kalian hidup tidak memikirkan orang lain! Hidup ini tidak hanya tentang kalian, tidak hanya kalian yang menjalani hidup yang berat! Kalian tidak berpikir kami juga berjuang sangat keras? kami tahu kalian berpikir hidup kami enak, tinggal ini tinggal itu tapi nyatanya kami yang jalani, kalian gak tahu apa-apa. Stop berpikiran kayak gitu tentang kami.
Aku hanya ingin bisa diam, diam, dan diam. Tak banyak bicara. Aku pusing diceramahin terus. Aku tahu, tahu, dan sangat tahu. Tapi kalian tolong lihat apa yang kami perbuat. Jangan cuma pandang sebelah mata saja. Aku tahu kalau aku ngomong pasti salah, dan selalu salah. Gak ada benarnya kalau aku ngomong di mata kalian. Kalian bilang aku egois, aku emosian, aku pemarah, aku tidak sabaran, mana aku yang sd? Yang selalu tersenyum? Yang selalu bersikap manis? Yang kalo marah ya garang, yang asal ceplas ceplos kalau udah marah. Kenapa aku jadi berubah seperti ini? Kenapa? Karena kalian tidak tahu alasan orang yang sudah benar-benar sayang sama kalian, tapi kalian kecewakan dengan kemarahan padanya. Seolah-olah hanya dia yang salah.
0 comments