Cerpen : Pencerahan dari Sang Ilahi

  • September 02, 2018
  • By Shofia Nurul Hidayah
  • 0 Comments

Di suatu kota kecil terdapat sekolah yang memiliki 4 orang gadis unik. Mereka hidup dengan aman, tentram, damai, namun....tak abadi. Mereka bernama Mega, Siska, Nurhid, dan Fi. Di pagi yang cerah, sekolah tersebut mengedipkan matanya yang memancarkan cahaya. Dua dari keempat gadis itupum berkumpul di kelasnya, yaitu fi dan nurhid, berbincang-bincang mengenai PR. Dan tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan siska dan mega. "Wee, apa yang kalian bahas tu?"  Tanya Mega. "Cowok ee !!?" Terkaan Siska. "Oiiiing, sedap nyakap siss!" Sungut Fi. "Haha, jadi apelah?" Siska menggerutu. "PR ni haa" jawab Fi dan Nurhid serentak. "Oo..kira kami cowok tadi, haha *ngakak*" tawa Mega dan Siska. "Cowok jelah yang ditau tu!! Banyak cowok tu kang!" Sungut mereka. 
Bel masuk pun berbunyi, anggap saja bunyinya "kring..kring..kring" kayak bunyi klakson sepeda :v . "Cepat betullah masuknya, kan tu ibu ngomel lagi, padahal masih pagi lohh!" Celoteh Fi. Merekapun mengambil tempat duduk masing2.
Tiba-tiba disaat jam pelajaran, "pilih mana Mega, abang qing2, kawan pedekik, atau adik manis" Fi tiba-tiba nyengol. "Pertanyaan dio jeluk ni ngeri sekali yakk! Jeluk adalah julukan dari Mega untuk Fi." Jawab Mega. "Apasih payahnya jawab!?" Serentak Siska dan Nurhid. "Yo wes, besoklah aku kasi tau" seru Mega. Dan Fi pun protes, "Lak yeh, besok?!? Okehlah." Tiba-tiba Fi terdiam sambil berpikir, dan melanjutkan kata-katanya, "haa, siska macam mana pulak? Sama ustadz comel atau budak tu ha?!?" Melirik ke seberang  bangku. "Siapa ya mereka? Gak kenal aku" lagaknya becakap (berbicara) dengan PD. "Iyaaaaakk, apelah-apelah" serentak Nurhid dan Fi. "Dio tu pi, memang macam tu pi, minta keno tu pi" seru Mega. "Dah. Dah." Kata Fi. "Hayoo..Nurhid pulak sekarang.." serentak Mega dan Siska. Dan Nurhid pun akhirnya membantah, "apo ni! Aku tak ada do!". "Ceileeeh, sama yang pedekik tu atau kambing?" Ledek Fi. "Apo akak ni, tak ada do" seru Nurhid. "Haha, cayeee? (Percaya?)" Gelak Mega. "Taaakkk!" Jawab Fi dan Siska. Nurhid pun mengancam, "awas miko ee! Miko adalah kalian dalam bahasa melayu". "Kasi taulah??" Fi mengedipkan matanya. Nurhid pun menjawab, "nak macam oang (baca: orang) dua tu, besok jawabnya!". " adeuhh, aoklah (iyalah) wee, terserah kalianlah, Fi pasrah. "Eii, kejap (bentar) serang yok?" Kata Nurhid. Mega dan Siska sempat kebingungan dan keheranan, dan mereka langsung paham  menjawab, "yok!". "Kalo dirimu siapa neng?" Serentak mereka bertanya kepada Fi. Fi pun tersenyum dan menjawab, "Kahkahkah, tak de siapa siapa". " kami?" "Caye ajelah" jawab Fi. Obrolan pun selesai karena mereka mengerjakan tugas yang diberikan.
Jam istirahatpun berlagu ria. "Yuhuu, keluar mainn.." ucap teman sekelasnya. Seketika ada yang nyaut, "mainlah sano woi, istirahat kaliiii" sorak mereka yang mendengarkan. Siska pun mengajak Mega, Nurhid, dan Fi, " jajan yok!". "Tumben Sis, mau jajan ngajak-ngajak, biasanya main lalu je kami ni" ledek  Nurhid. "Hehe, diajak salah, tak diajakpun salah, bingung aku!" Teriak Siska. "Haha, ngomel dia! Jomlah (ayoklah)" kata Fi. Tak terasa beberapa menit kemudian, bel masuk berkumandang. "Eii, cepatnyee masuk!" Seru mereka. Dan mereka yang menjawab "kan MAN gitu lohh" lalu tertawa bersama.
Sampailah di jam 16.00, merekapun menutup pembelajaran dengan membaca hamdalah. Dan menuju parkir mobil, uuh, sangat tidak cocok ya! Ya jelaslah parkir sepeda motor dong -_- , gimana sihhh! Dan mereka pun menyusuri jalan rumah mereka masing-masing. Di perjalanan pulang, mereka kembali merenungkan ucapan Fi tadi pagi. Yang membuat mereka menjadi pusing. "Tu lahh, raseee, haha!" Fi berkata dalam hati sambil tersenyum.
Keesokan harinya, "ehm, haii, pagi semuaa" sapa Fi. Namun, Siska, Nurhid, dan Mega tak menjawab sapaannya. "Hellooow, ada orang gak sih ni?" Tanyanya lagi. "Pasti mereka sudah janjian duluan sebelum diriku datang" pikir Fi. Akhirnya Fi berkata lagi sendiri, "yaudah, kalo kalian gak mau bicara sama aku, aku sih gapapa". Tiba-tiba, "Fi, becakap sendiri?" Tanya Asih. "Haha, aku becakap sama para haa..chiimmm :D" jawab Fi yang alih-alih bersin. "Ku lanjut ya sih, mungkin orang ni pada sakit gigi sih". "Aamiiinn" ucap Asih. "Kami tak ndak do" jawab mereka serentak :v. "Eh, kerang ajaib bisa becakap dah?" Tawa Fi. "Heemmmm.." kata Siska. "Gimana, udah mikirnya?" Tanya Fi. "Yal Allah, pi nantilah, sabo-sabo ( sabar-sabar)" jawab Mega. "Yayaya, ku tahu kalian mau ngelak dariku" akhirnya Fi geleng-geleng, ups geleng-geleng  kepala yakk :v. Kring-kring-kringggg, bel masukpun berbunyi.
Tepat jam 09.45, setelah membeli jajan di koperasi. "Jawab oiiiinggg" Fi geram hingga akhirnya memukul meja dan membuat tangannya sakit. "Yaelah, santai Fi" jawab Siska. "Tuhkan, tangannya jadi sakit" kata Mega. Fi hanya cengar-cengir senyum bebek. "Kami akan jawab, tapi..harus janji dulu dong, kalo dirimu gak akan marah apalagi ngomel! Janji??" Seru Siska. "Yayaya!" Jawab Fi sambil mengangguk-angguk. "Jadi, kami..bertiga..memilihhh..." belum selesai mereka menjawab langsung dipotong oleh Fi. "Aku udah tau jawabannya" sungut Fi. "Lah, kami belum jawab Fi.. ._. " ucap Mega. "Iya, aku tau kalian belum jawab, tapi aku udah tau jawabannya." sergah Fi. "Emang apaan?" tanya Nurhid. "Apa cobaa? Apa? Hayooo" seru Siska dan Mega. "Okai, baiklah, kalian tidak memilih siapa-siapa dari pilihan yang ada, iyakan? Jujur aja deh" jawab Fi. Mereka bertiga saling menatap, "tau darimana?" "Heemmmm, sebenernya aku udah tau dari kemarin lagi, tapi biar kelihatan keren gitukan" lagak Fi.
Ejekan demi ejekan hampir tiap hari keluar dari Fi. Hingga suatu hari,.... "wee, Mee, Sis, Nurhid sama anak X5 :v" seru Fi. "Apoo akak nii!, tidak doo" bela Nurhid. "Siapa pi?" Tanya Mega. "Itu ha anak X5" jawab Fi. "Namanya siapa Fii?" Siska kepo. "Adalaaah, tu haa orangnya ada di depan pintu!" Ejek Fi. "Ooh, itu rupenyee, matilah dikau Nurhid, tak dapat makan!" Kata Mega. "Emang puase tak dapat makan?" Tanya siska. "Ehh, saleeh (salah), tak dapat ngelak maksudnyo" seru Mega. "Dia ngelihatin Nurhid terus ee" ucap Fi. "Haha, itulah" ucap Mega dan Siska. "Dah. Dah." Kata Fi. "Dio jugo yang mulai duluan tadi tu" kata Nurhid. Merekapun tertawa bersama. Obrolan pun berakhir dikarenakan bel masuk kelas berbunyi.
Setelah pulang sekolah, Fi pun kembali berpikir, apa yang akan terjadi dengan cerpennya nanti . (Sampailah ia hendak pergi tidur dan bermimpi indah). "Hai Fi, kamu lagi bingung yaa?" Tanya sosok terang dalam kegelapan. "Eh iya nii, kamu kok tau?" Tanya Fi kembali. "Aku adalah malaikat yang disuruh oleh Allah Yang Maha Kuasa (sebagai pencipta kita) untuk membenarkan jalanmu." Ucapnya. "Haa? Emangnya jalanku salah?" Kata Fi. "Sesungguhnya, iya!" Angguk malaikat. "Apa yang salah dari jalanku wahai malaikat?" Tanyanya kembali. "Kau telah berniat menjodoh-jodohkan kawan-kawanmu! Itu yang salah" seru malaikat. Seketika, Fi terbangun dari mimpinya. Ia beristighfar, meminta ampun pada Sang Pencipta. Malam itu tepat pukul 02.00 WIB. "Ya Allah, baru jam segini?" Kata Fi. Sepertinya Allah telah membantuku menyelesaikan cerpenku kelak" seru Fi dalam hati.
Keesokan harinya di sekolah. Fi hanya diam, diam, dan diam. Mereka merasa ada keanehan dan kejanggalan, karena apa yaa? Dan itulah dia. "Gak biasanya si Fi diam tanpa kata macam tu" ucap Siska pada Mega. "Iyo, betul tu" seru Mega. "Ngapo dio agaknyo ee...." tanya Siska berusaha berpikir keras. "Eh, panaskan dia yok!!" ajak Siska. "Yoklah" kata Mega. "Ehm, Sis, dikau bawa bekal dak?" Tanya Mega. "Seeeh, misi dimulai" seru Fi dalam benaknya. "Aku tak bawa do, tak sempatt :(" seru Siska. Tiba-tiba Mega bertanya pada Nurhid, "Nurhid, dikau bawa bekal?" , Nurhid menjawab "tidak do". "Haa, dikau bawa ga?" Serentak mereka berdua bertanya. "Haha, aok e, tidakk -_-" ucap Mega. "Eh, ada PR tak hari ni woi?" Tanya Siska. "Macam ado, tapi aku tak buat. Biasa anak rajin" tegas Mega. "Haha. PR apa sih?" Tanya nurhid yang tak tau menau misi orang belakang. "PR ni haa!" Tunjuk Mega ke arah bukunya. "Aok e, kan bapak suruh siapkan" Nurhid menepuk jidatnya. "Akak, akak dah siap PR ni?" Tanya Nurhid. Seketika Fi melihat soal, lalu menjawab, "Oo itu.. siap ._. ." "Nyontek kak" pintanya. "Ha? Ambillah" sungutnya. "Maaak eh siss.." kata Mega. "Sakitnya tu dimana?" Tanya Siska. "Disini" Mega menunjuk letak hatinya. "Ehm, ngapa?" Fi berbalik arah memandang orang belakang. Namun, Siska dan Mega saling berpandangan dan serentak menjawab "tak adoo". "Tumben diam pi" Siska langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Siska" sergah Mega. "Hm, tak apa do" ucap Fi. "Malas je mau becakap tu" sembari meneruskan ucapannya. "Jadi dah cerpen tu pi?" Tanya Siska. "Yaelah, belumlah. Tak ada waktu nak buat" seru Fi.
Hingga suatu sore saat Siska datang ke rumah Fi, Fi berjanji untuk menyiapkan cerpennya pada bulan Mei, namun karena banyak kesibukan yang datang menghampiri, membuat Fi tidak sempat untuk mengerjakan cerpennya. Dan Fi meminta maaf untuk itu.  Tiba saatnya bulan puasa (Ramadhan) kelak, Fi akan bersikeras untuk menyelesaikan cerpen yang sudah dijanjikannya. Fi sudah tau apa yang akan dibuatnya.
"Fi, tumben kagak ngejek-ngejek lagi?" seru mereka bertiga. "Aku ngejek salah, tak ngejekpun salah" sungut Fi. "Ooh..maaflah pi" pinta Mega. Semua pun terdiam sejenak.
"Jadi gini, aku akan nyelesaikan cerpen tu bulan puasa nanti." Tegas Fi. "Hengalah apoolah" celoteh siska. "Maaf, aku tak sempat nyiapkan sekarang, tunggu ajalah pas bulan puasa" kata Fi. Dan Fi pun berkata dalam hati "dalam cerpen tu, tidak akan ada yang Fi pilih, karena Fi tau dan dan Fi telah sadar, bahwa jodoh, rezeki, dan maut hanya Allah yang tau.
"Oiii, ngapa tediam pi?" Tanya Mega. "Ha, ndak, aku cuma nak bilang...", "bilang apo pi?" Tanya Mega lagi. "Tak ada, wkwk". "Cakaplah ha!" Perintah Mega. "Cakap jelah pi, dikau tak tau Mega ni orangnye kepo, dah tu pemaksaan, haha." Seru Siska. "Iyelah-iyelah. Aku akan cakap, tapi jangan ada yang protes ee" tegas Fi. "Oke..oke..oke". "Aku tak akan comblangkan kalian dengan orang-orang yang kupilih untuk kalian dalam cerpen nanti." Ucap Fi. "Ngapa pula pi?" Tanya Mega. "Alhamdulillah", ucap Nurhid dan Siska. "Karena urusan jodoh, rezeki, dan maut hanya Allah yang tau" ucap Fi sok bijak. "Maak eh, ado ustadzah dekat lokal awak" ucap Dandi yang tiba-tiba datang. "Iyo ee! Taupun, tu lah usah macam tu lagi pi! Kami tak pa po do!" Ucap mereka bertiga.
Dan pada akhirnya mereka mencari jalan jodonya masing-masing. Tidak ada yang tau siapa yang mereka pilih. Hanya hati mereka dan Allah lah yang tau, dan mereka pasti senang dengan itu :).

SELESAI.

*Syukron untuk yang telah mendukung cerpen ini bisa hadir. Mega Daryuni, Nurul Hidayah, Siska Zulaini, dan saya sendiri 😃😄. Happy Reading Guys 😎🤗.

You Might Also Like

0 comments