Tradisi
Punggahan Desa Wonosari
Oleh
: Shofia Nurul Hidayah
A.Latar Belakang
Desa wonosari merupakan salah satu desa yang terdapat kecamatan
Bengkalis. Desa ini terbagi atas 5 dusun, salah satunya ialah dusun mekar sari
yang berada di wonosari barat. Desa wonosari ini memiliki tradisi – tradisi
yang masih dipertahankan dan dilestarikan, dan dikembangkan agar tradisi –
tradisi yang ada sejak dahulu, tidak pudar dan semakin hilang. Salah satunya
ialah Tradisi Punggahan yang diadakan setiap malam 1 hari sebelum bulan
Ramadhan.
B.
Pembahasan
Punggahan adalah acara kenduri arwah yang diadakan untuk menyambut
datangnya bulan yang mulia yakni bulan suci Ramadhan. Punggahan diadakan dengan
tujuan atas adanya rasa syukur dan kenduri arwah bagi yang tidak mampu
merayakannya secara besar-besaran di rumah masing – masing, sehingga dibuatlah
di masjid – masjid setempat. Dengan adanya rasa syukur, maka nikmat dan
keberkahan akan bertambah. Di samping itu, punggahan ini mengandung nilai –
nilai islam. Di dalam acara punggahan, terdapat beberapa urutan acara, yaitu
pembacaan ayat suci Al-Quran yang dilantunkan oleh qori/qoriah, ceramah
sekaligus pembacaan do’a yang diserahkan kepada ustadz yang diundang, dan
setiap warga membawa makanan sebagai bentuk ungkapan rasa syukur dan untuk
kenduri arwah tadi.
Ceramah yang ditausiahkan/disampaikan oleh ustadz berisi tentang
bulan mulia, bulan maghfirah yakni bulan suci Ramadhan, dan hal-hal yang
berkaitan dengan bulan ini. Ceramah yang disampaikan juga memberi nilai - nilai
positif untuk para masyarakat yang hadir. Setelah ceramah selesai, dilanjutkan
dengan tahlil yang dibaca scara bersama-sama, kemudian pembacaan do’a. Hal ini
untuk memberi keberkatan atas apa yang dilakukan dan membawa berkat atas nasi
yang dibawa masing - masing warga tadi. Ada yang membawa dengan rantang, ada
pula yang membawa ameng-ameng (yaitu makanan yang diletak di dalam baskom nasi
, dan lauk pauk di atasnya dengan beralaskan daun pisang), dan ada yang membawa
kue-mue. Mereka tidak membawa piring untuk alas makan, melainkan membawa daun
pisang sebagai alas makan. Cara makan pun secara bersama – sama, hingga
terjalin ukhuwah islamiyah dan menyambung tali silaturrahmi diantara sesama.
Hal ini tidak mengenal yang tua (mbah-mbah, bapak-bapak, ibu-ibu) dan yang muda
(anak-anak), mereka menyamakan, hingga terjadilah keakraban diantara mereka. Inilah
tradisi punggahan yang diadakan di desa wonosari.
C.
Penutup
Setiap tradisi mempunyai keunikan dan memiliki cara tersendiri
untuk menjadikan terjalinnya silaturrahmi, ukhuwah islamiyah, dan lebih
mendekatkan diri pada yang maha kuasa. Sama halnya dengan tradisi punggahan
desa wonosari, memiliki ciri khas yang sudah menjadi kebiasaan berulang setiap
datangnya bulan suci Ramadhan. Hal ini menumbuhkan kecintaan yang besar
terhadap bulan yang lebih baik dari 1000 bulan.