Tradisi Baraan (Rombongan) Desa Wonosari

  • Juli 13, 2018
  • By Shofia Nurul Hidayah
  • 0 Comments



A.Latar Belakang
Indonesia memiliki berbagai macam adat istiadat, tradisi, kesenian, dan lain sebagainya. Salah satunya di provinsi Riau tepat di kabupaten Bengkalis, yakni Desa wonosari yang merupakan salah satu desa yang terdapat di kecamatan Bengkalis. Desa wonosari ini memiliki tradisi – tradisi yang masih dipertahankan dan dilestarikan, dan dikembangkan agar tradisi – tradisi yang ada sejak dahulu, tidak pudar dan semakin hilang. Salah satunya ialah Tradisi Baraan Desa Wonosari yang tidak bisa dipungkiri setiap lebaran menjelang. Tradisi ini telah ada sejak lama, sejak nenek moyang terdahulu. Dengan adanya baraan, lebaran menjadi lebih meriah dan bersuka cita. Baraan ini tidak memandang tua ataupun muda, besar ataupun kecil, karena menyama ratakan semuanya. Disinilah semua keakraban terjalin dengan indahnya.

B. Pembahasan
Baraan ialah acara naik dari rumah ke rumah saat lebaran ( hari raya idul fitri ) dalam rangka mempererat silaturrahmi, menjaga kemurnian tradisi yang telah ada sejak dahulu. Baraan di desa Wonosari ini terjadi dari hari pertama lebaran sampai hari ke empat lebaran. Satu hari kira-kira 70 rumah yang akan didatangi. Selain untuk mempererat silaturrahmi dan menjaga kemurnian tradisi, tujuan yang lain ialah sang tuan rumah memohon maaf atas segala kesilapan dan kesalahan yang terjadi selama tahun ke tahun.
Acara dimulai setelah selesai sholat ‘id fitri. Yang memulai naik ke rumah pertama ialah kaum laki-laki, terlebih dahulu pemuka masyarakat yakni bapak-bapak, baru anak-anak laki-laki, dan kemudian dengan ibu-ibu dan anak-anak perempuan. Saat naik dari ke rumah, agenda awalnya ialah pembacaan tahlil dan do’a dan kata sambutan dari tuan rumah untuk meminta maaf. Makanan pun sudah dihidang, setelah selesai do’a dan kata sambutan dari tuan rumah, barulah dipersilakan memakan jamuan yang telah dihidang.  Disaat seperti ini, keluarga yang jauh akan membantu, dan lain sebagainya. Karena adanya acara baraan ini, para perantau yang berasal dari desa Wonosari, menyempatkan mudik ke desa atau kampung halamannya yang ada di desa Wonosari Bengkalis. Acara ini dilakukan dari pagi sekitaran jam 8.30 sampai sore menjelang maghrib.

C. Penutup
Setiap tradisi mempunyai keunikan dan memiliki cara tersendiri untuk menjadikan terjalinnya silaturrahmi, ukhuwah islamiyah, dan lebih mendekatkan diri pada yang maha kuasa dengan salam-salaman yang terjadi antara tuan rumah dan para tetangga. Sama halnya dengan tradisi baraan desa wonosari, memiliki ciri khas yang sudah menjadi kebiasaan berulang setiap datangnya bulan syawal yakni hari raya idul fitri. Hal ini menumbuhkan betapa pentingnya meminta maaf satu dengan yang lain tanpa rasa gengsi dan malu.


You Might Also Like

0 comments