Subuh yang gelap itu diawali dengan terdengarnya bunyi serunai, pertanda waktu imsak telah bermula. Matahari beranjak dari tempatnya memulai aktifitas di ufuk timur. Terdengarlah suara deru motor yang mengaum-ngaum dan meninggalkan kepulan asap menyesakkan. Keluarlah sosok pria dari balik pintu dengan menggunakan baju kaos lengan pendek dan celana jeans panjang, lalu menyusul temannya si Dayat .
“Hoiii genk” sapa Halim.
“Hoiii bro” jawab Dayat.
“Pagi amat lu jemput ane genk, ingat gak lu ni bulan puasa?!?” Tanya Halim.
“Ingatlah bro, bosen ane di rumah, haha” tawa Dayat
Belum sempat Halim menjawab, dengan keadaan mulut menganga, disela oleh suara ajakan Dayat.
“Yowes, duduk bawah pohon yok?” ajak Dayat.
“Yok, tapi..pohon yang mana bro?” Tanya Halim sambil menggaruk kepala yang tidaklah gatal.
“Heh, lu udah berapa lama tinggal disini? Di rumah lu bro?, nongkrong di pohon toge” seru Dayat dengan nada mendengus kesal.
Dengan nada enteng lalu terheran Halim menjawab “Guahaha, lu bisa aja genk, di rumah gue mana ada pohon toge”
“Ya lontong, itu tu, pohon ntuuu!!” jawab Dayat sambil menunjuk pohon.
“Oo oke, jom lah, bhahak!” gelak Halim yang menyadari dirinya aneh hari ini.
Terjadilah perbincangan yang amat menggemparkan saat mereka berdua nongkrong di bawah pohon jambu.
“Heh Lim, gue muak lah dekat sini, bengkel yok!?” ajak Dayat.
“Hoo, benar juga!” jawab Halim mengiyakan.
Datanglah temannya si Napi (bukan Nara Pidana yeh!), wkwk.
“Hoiii, jalan yok!!!” ajak Napi.
Seketika mata Dayat dan Halim terbelalak, lalu serempak menjawab “Jom!!”
Setelah melakukan perjalanan di bawah teriknya matahari, panas yang begitu menyengat membuat mereka sedikit kelelahan di siang hari bulan puasa.
“Hoi, bengkel-bengkel!!!”ajak Dayat sambil menunjuk bengkel di sebelah kanan jalan.
Temannya yang dua orang itu pun mengikutinya. Tiba-tiba handphone Halim berbunyi, tandanya ada pesan. Setelah turun dari motor kesayangannya, dia pun mengambil handphone, membuka pesan lalu dibacanya.
“Hei, lagi ngapain?” pesan dari Dila.
Secepat kilat Halim membalas “lagi di bengkel ni”
“Gak bosankah ke bengkel melulu?” tanya Dila heran.
“Wkwk, enggaklah, demi motor” tawa Halim.
“Hari-hari ke bengkel, motor aja taunya! Haduh, sepertinya bengkel adalah belahan jiwa dari dirimu, haha” sindir Dila.
“Jiah, segitunyakah?” tanya Halim.
“hahak, kurang lebih begitulah” jawab Dila sekenanya.
Halim yang tersenyum dari tadi, tiba-tiba dikagetkan oleh dua orang temannya.
“Hoiii Limmm!!!” serempak temannya.
“Lu sadarkah kim? Lu balas sms, senyum melulu dari tadi!” seru Dayat
“Betul betul betul” jawab Napi menjawab seruan Dayat
“Guahaha, diri ini lagi senam wajah aja genk” jawab Hakim.
“Makin gak beres aja ni bocah” fikir temannya.
Dan masih dengan sms-an.
Dila bertanya “apa yang menyebabkan dirimu suka ke bengkel?”
lalu dijawab, “gak tau lah dil, ini karna ada yang kurang aja dari motornya dil”
“Jiah, motor aja disayangi kaya gitu apalagi kalo orang yeh” sahut Dila.
“Guahaha, bisa aja dirimu, seeh” kata Halim.
“Jadi pengen bikin cerpen deh, hehe” kesah Dila.
“Cerpen apa pula tu?” tanya Halim.
“Ehm, cerpen mencari cinta, bhahak, bukan-bukan, tapi….cerpen Ada Apa dengan Bengkel” spontan Dila dalam pesan.
“Aduh, seriuskah dirimu?” keluh dan heran Halim.
“Iya, diri ini serius, kenapa kayak gak yakin gitu? Tenang aja! Ingat, diri ini selalu nepatin janji oom” Dila berkata sambil ngelawak.
“Wokeh, terserah dirimu aja deh, yang penting dirimu bahagia” pasrah Halim.
Tiba-tiba. . . .
“Genk, udah siap tu lu punya motor dibenerin” kata Dayat mengagetkan dan membuyarkan lamunan Halim.
“Hayya, udah siap? Kok cepat banget?” tanya Halim.
“Lu tu aja yang gak ngebantuin kami dari tadi, sibuk sms, bhak” sindir dan serempak mereka berdua.
“Sorry genk,” Halim dengan muka memelas.
“Hoho, gak apa lah, bawa betenang genk, kita kan teman, kaya gak biasa aja lu lim..lim!” tawa Dayat dan Napi.
Malam pun berganti . . . .
“Hei, lagi ngapain?” tanya Halim.
` “Ni lagi bikin cerpen aja” jawab Dila.
“Beneran dibuatkah?” Halim heran.
“Iya dunk, Ada Apa dengan Bengkel akan segera terbit di bengkel kesukaan anda” kata Dila bercanda sambil menghayal.
“Okelah, entar kirim yo, biar lebih terkenal” seru Halim.
“Baiklah bro” tawa Dila.