Perjalanan Waktu yang Nyata

  • Maret 26, 2021
  • By Shofia Nurul Hidayah
  • 0 Comments


Hari itu rasanya seakan tidak bisa kutahan lagi. Aku meringis, ada apa denganku? Hemm nanti pasti baikan, begitulah seterusnya rasa itu aku abaikan, hahah. Sungguh terlalu apa adanya. Tidak kusangka tiga bulan sudah berlalu. Aku kira ia akan pergi dengan sendirinya – tanpa dipaksa yang artinya hanya perlu berdoa yang tentunya juga diiringi dengan usaha sahaja. Tapi prediksi ini salah. Lagi-lagi aku seperti meratapi keadaan, hei u! Jangan lemah dong pikirku! Aah tetap saja aku menginginkan bahwa ia tidak ada.

Namanya juga manusia, kebanyakan ngeluh! Ya itu aku. Aku yang harus tergantung pada sesuatu yang sangat aku hindari. Dan siapa sangka aku sudah bersamanya selama 3 bulan. Itu sesuatu yang sedikit sulit untuk kujabarkan. Bulan pertama dan kedua aku sangat tidak teratur, bagaimana tidak?

Awal kudapatkan ia itu siang, pindah ke malam, pindah ke pagi, pindah ke siang lagi, dan begitulah seterusnya. Dan di bulan ke tiga ini aku berusaha teratur, yaaa jadi malam untuk melepas semuanya aja gitu. Oh iya, aku sangat tidak menyukai tempat itu, setiap aku kesitu – dahulu, aku bisa diam saja tidak bicara sepatah katapun. Apabila ada orang yang ingin aku mendeskripsikan tempat itu, tentunya aku menolak.

Apa yang kurasakan awal mula aku mendapatkannya? Jangan tanya dong, sudah tentu aku berkata dalam hati, “kenapa aku ya Allah? Kan banyak orang yang lebih-lebih dari aku!”, setelah kupikir-pikir aku gimana sih, percayalah kamu bisa melewatinya, walau harus ya begitulah.

Dan sekarang keajaiban terjadi, aku sudah kesana rutin sebulan sekali! Banyak hal yang aku pelajari disana, salah satunya adalah “menjadi bahagia tanpa merasakan apa yang dirasa. Kita manusia memang nggak ada yang tahu perasaan orang, tapi aku bisa melihat raut wajah mereka, tidak ada yang tegang, tidak ada takut, sungguh mereka bukan AKU! Aku melihat orang yang menikmati alur yang diberikan oleh sang maha kuasa. Terimakasih kuucapkan pada kalian, aku seperti melihat dunia baru. Mereka seperti mengatakan untuk apa takut? Toh tidak ada juga yang mau bila dikasi, tapi yaa jalani dan nikmati aja karena sang maha kuasa tidak akan memberikan melebihi batas kemampuan hamba-Nya.

Aku juga belajar bahwa orang yang sabar belum tentu dia ikhlas, akan tetapi orang yang ikhlas tentunya adalah orang yang sabar. Ikhlas menjalani ketetapan-Nya, ikhlas menjalani skenario-Nya yang sangat luar biasa.

 

-Diary SNH-

You Might Also Like

0 comments