Kisah Anak Negeri Junjungan

  • April 26, 2018
  • By Shofia Nurul Hidayah
  • 0 Comments


Air Mata di Balik Senyuman
By: Shofia Nurul Hidayah

Suara deru motor yang mengaum-ngaum di kala subuh menjelang itu membangunkan aku dari tidur malam ku. Tepat pukul 05.00 WIB. Aku bangun dari kasur empukku, membuka pintu kamar dan menuju kamar mandi. Tak berapa lama kemudian aku keluar dari dalamnya. Terdengar suara ayah dan mama yang memanggilku, “Fi, mama sama ayah ke pasar dulu ya? Hati-hati di rumah” lalu ku sahut “iya ma...”. Dengan begitu, aku berlalu melaksanakan sholat subuh. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 06.10 WIB, mama dan ayah telah pulang dari pasar. Ayah yang waktu itu telah sakit batuk beberapa hari terakhir ini, harus pergi ke pasar untuk membeli dagangan.
“Ma, Yah, fi berangkat ke sekolah dulu ya...” pamitku kepada mereka, orang tua ku. “Iya, hati-hati, belajar yang rajin” begitulah pesan orang tua kepada ku. Hingga tiba saatnya aku pulang, aku mendapati ayah yang sedang duduk di sofa. Aku bertanya padanya, “ayah sudah makan?”, jawaban dari pertanyaan ku diambil alih oleh mama, “ayah tak makan, ayah mual mencium bau nasi dan makanan”. “Hmm, kalo begitu fi makan ya...” Aku yang waktu itu terkenal cuek dan tak terlalu peduli dengan orang lain  pun merasa hal tersebut biasa-biasa saja”.
Tibalah hari terus berlalu, dan sakit ayah bertambah parah, namun ayah masih sangat bisa tersenyum di balik rasa sakitnya. Malam tanggal 26 April 2011, ayah drop, ayah pingsan (tak sadarkan diri), ayah dibawa ke RSUD oleh para tetangga, saat itu aku enak-enakan tidur. Keesokan harinya, aku dibangunkan oleh mama.
“Fi, bangun! Sholat subuh dulu” sahut mama dari luar kamar ku. Dengan mata masih mengerjap-ngerjap, aku menjawab “iya ma, sebentar”. Aku keluar kamar dengan langkah gontai, menuju kamar mandi, lalu memakai pakaian sekolah. Namun, ketika aku telah bersiap-siap mengenakan pakaian sekolah, mama berkata “hari ini libur dulu ke sekolahnya”, dengan heran aku menjawab “kenapa fi tak sekolah ma?”, mama yang sudah bersiap-siap mengatakan “kia bertiga lihat ayah hari ini”.
Dan saat itulah, aku baru menyadari bahwa ayah tak berada di rumah, langsung ku tanyakan, “ayah dimana ma?”, “Ayah di RSUD Pekanbaru” jawaban itulah yang keluar dari mulut mama. Betapa sedihnya aku, mama, dan adikku, Lia. Hari itu, kami berangkat ke RSUD dengan menaiki taksi milik tetangga. Jauh dari dasar lubuk hatiku yang paling dalam, aku merasakan tanggal 26 April 2011 itu sangat lambat berlalu.
Setibanya kami di RSUD Pekanbaru, menyusuri trotoar mencari ruangan ayah. Ketika hendak menaiki tangga berikutnya, dimana ruangan ayah di rawat, kami bertiga dihalangi oleh seorang satpam. “Mau kemana bu?” tanya satpam pada mamaku. “Mau ke atas ruangan ayahnya” jawab mama. “Maaf bu, untuk anak di bawah umur 12 tahun, tidak boleh naik ke atas!” sang satpam memberikan peringatan. Ingin rasanya ku bertanya mengapa tidak diperbolehkan, namun ucapan itu hanya berada di dalam hatiku. Namun, pak satpam langsung memberikan pengertian, seperti mampu membaca pikiranku, atau karena melihat muka sangar ku kali yaa..., “ruangan atas ini adalah ruangan penyakit yang disebabkan oleh virus bu” begitulah kira-kira pak satpam menuturkan.
Tapi, secara diam-diam, ketika pak satpam tidak sedang berjaga, mama mengajak ku dan Lia adikku naik ke atas. Betapa terkejutnya aku saat itu. “Ayah....” begitulah ucapku setelah melihat kondisi ayah. Seolah-olah tidak menyangka, ayah akan diinap di RS dan ayah diinpus. “Iya fii...” sapa ayah terhadapku. “Ayah udah baikan?” tanya ku takut-takut. “Udah mendingan kok” tutur ayah sambil tersenyum. Dan aku masih tak menyangka, di saat ayah menahan rasa sakitnya, ayah masih sangat bisa tersenyum dan membuat tingkah lucu. Ayahku memang begitu. Tiba-tiba adikku, si Lia menangis ketakutan. “Sini dekat ayah, jangan takut, ayah gak apa-apa doo” dengan nada lembut ayah membujuk Lia. Akhirnya Lia pun mendekat. Betapa aku ingin menangis saat itu. Belum cukup lama kami di ruangan itu, pak satpam sudah cukup tahu kami berada di dalamnya. “Sudahlah pak, biarkan anak-anakku bersama ayahnya!” tegas mama. Pak satpam tidak berkata apa-apa mendengar ucapan mama.
Setelah beberapa jam bersama ayah, aku terpaksa pulang, karena aku harus menghadapi dan mengikuti UAMBN DTA AL-MUHAJIRIN. Hari UAMBN pun tiba. Betapa sedihnya aku, tak bisa salam dengan orangtua ku, karena mereka berada di RS. Di rumah, ku tinggal sama kak rosi, kakak yang kerja di rumahku. Ujianku amburadul (baca: acak-acakan), berantakan, kacau, fikiranku entah dimana dan kemana. Hingga hari terakhir UAMBN ayah dibawa pulang ke rumah, karena tiada perkembangan. Tanpa terasa sudah 7 hari ayah di rawat di rumah sakit. Betapa senangnya aku mendengar berita itu. Di perjalanan pulang, saat di angkot, “eh, langsung ke rumah ya? Kawan-kawan gak berhenti disini?” tanyaku pada kawan-kawan MDA ku. “Ndak fi, kami mau jenguk Pak Zul.” Jawab mereka.
Setibanya di rumah, pintu rumah ku buka lebar. “Masuklahh...” ucapku kepada mereka. “Aman tu sop!” jawab mereka sambil cekikikan. “Assalamu’alaikum pak Zul....?” kawan ku memasuki rumah dan langsung masuk ke kamar ayah. “Wa’alaikumsalam, wahh...ramai” heran ayah. “Iya pak, bapak sakit apa pak?” tanya seorang kawanku sekaligus murid ayahku. “Oh iyaa, maaf sebelumnya, bapak tak bisa menemani kalian ujian di sekolah lain, sakit hepatitis kata dokter” jawab ayah. “iyalah pak, cepat sembuh ya pak” murid-murid ayah sambil menyalami tangan ayah satu persatu pamit pulang. “iya.. terimakasih ya....” senyum ayah pada mereka.
Keesokan harinya, tepat tanggal 06 Mei 2011, keluargaku memutuskan untuk membawa ayah berobat ke Malaka (Malaysia). Aku tersenyum karena itu semua demi kebaikan ayah, walau ku tahu aku akan ditinggal. Hari itulah mereka sibuk bersiap-siap, menyiapkan pasport untuk ayah, dan hal lainnya yang diperlukan. Sore harinya, mereka hendak berangkat, perasaanku hancur berkeping-keping saat itu, karena apa? Karena aku menahan rasa tangisku. Aku tak diizinkan ikut. “Ma, Yah, fi mau ikut!” rengekku. “Jangan, tanggal 10 Mei besokkan UN!” kata mama. “Tapi fi mau ikut!” pintaku pada mereka. “Lepas ujian aja langsung nyusul ke Bengkalis (salah satu kabupaten yang ada di provinsi Riau, yang merupakan kampung halamanku), sama kak rosi dan uwo (nenek dari ayah)” kata ayah. Mau tak mau, suka tak suka, aku harus mengiyakan, aku terlalu banyak membantah. Pergilah mereka meninggalkan aku bersama mereka berdua.
Dan aku teringat, padahal nanti malam adalah pergantian umurku, bertambahnya umurku, tapi orang-orang yang ku sayang tak berada di dekatku, kami dipisahkan oleh lautan. Tanggal 07 Mei, tanggal ultahku kali ini tidak menyenangkan, kenapa ya Allah? Pertanyaan dalam hatiku. Dan malam itu sebelum tidur, aku berdo’a dan aku sangat berharap kepada-Mu, aku yang akan berulangtahun esok hari , hanya meminta “sembuhkan ayahku Ya Allah” begitulah pintaku dengan memejamkan mataku. Tepat tanggal 07 Mei, betapa mirisnya hidupku, tidak ada yang ingat hari itu. Tiba-tiba sesampainya di rumah, mama menelfonku, “lagi apa pi?” tanya mama. “Ni lagi belajar aja ma” kataku sekenanya, hp mama memang sengaja ditinggal untuk ku agar mudah menghubungi ku. Aku yang waktu itu sudah kelas 6 SD pun belum dikasi memegang hp, berbeda dengan anak zaman now. “Ya udah, belajar yang betul-betul, selamat ulangtahun ya fi, jadi anak yang sholehah, yang rajin, jangan lupa do’ain ayah biar cepat sembuh” seru mama. Seketika butiran air menetes di pipiku, “Iya ma, pasti fi do’ain ayah” dalam hatiku. “Ya udah, jangan nangis, bikin ayah bangga.” Sahut mama memberi nasehat. “Enggak nangis do ma..ayah udah di malaka ma?” tanyaku merasakan gemetaran di tubuhku. “Udah pi, pergi sama wak (abang dari mamaku)”. Aku terdiam beberapa saat. Membayangkan sedang apa ayah di negri orang?, “lanjutlah belajarnya ya, salam untuk kak rosi sama uwo, assalamu’alaikum” mama pun langsung menutup telfon dari seberang sana. “Wa’alaikumsalam” jawabku.
Tak berapa lama kemudian, nomor asing menelfonku, dengan takut-takut aku mengangkatnya. Ternyata itu adalah nomor ayah di malaka. “Assalamu’alaikum shofi, lagi ngapain pi?” tanya ayah. “Wa’alaikumsalam, lagi belajar yah” tanpa sadar aku menjatuhkan lagi butiran air mata yang tak bersalah. “Belajar yang rajin ya, bentar lagi tu ujiannya, selamat ulangtahun ya pi, semoga jadi anak yang kuat, anak yang berbakti ya, do’akan ayah disini” kata ayah. “Iya yah, mbak (begitu panggilanku sebenernya di rumah) selalu doakan ayah, makasii yah”. Lalu ayah memberiku peringatan tentang rumah yang harus dikunci saat ditinggalkan nanti, minta tolong sama om has, atau siapa-siapalah, begitu kata ayah. Aku tau, ayah masih bisa tertawa dengan apa yang sedang dilewatinya.
Hari ujianpun tiba, sungguh semangat aku mengerjakan soal-soal itu. Tapi, yang ku tunggu adalah hari ketiga UN, yaitu tanggal 12 Mei. Dimana, aku dijanjikan pulang ke Bengkalis sama mama. Aku bahkan tidak ingat dengan teman-temanku yang sebenernya akan kutinggalkan. Aku pulkam tanpa berpamitan sama mereka. Tepat tanggal 12 Mei, pukul 12 lewat, aku packing untuk pulkam.seketika itu, aku ditelfon mama, “hallo, assalamu’alaikum” kataku. “wa’alaikumsalam udah ke pelabuhan sungai duku (merupakan pelabuhan yang ada di pekanbaru)?” tanya mama bersemangat. “Tenang ma, ini lagi siap-siap, nunggu taksi ayah kak ayu (taksi tetangga ku), ma!” jawabku pasti. “Iyalah mbak, kalo udah berangkat kasi tau nanti!” seru mama dari ujung telfon. “iya ma” jawabku senang bukan kepalang. Tiba-tiba terdengar bunyi klakson taksi “teeeettt...teeeettt”. “iya, tunggu sebentar om, nutup pintu dulu” tiba-tiba saja aku teringat pesan ayah waktu nelfon malam itu. “iya” jawab om taksi dari luar, yang masih tetanggaku juga. “Kak, Uwo, ayok! Udah dijemput sama om taksi tu, cepatlahhh” kataku kepada mereka.
Setibanya, di pelabuhan sungai duku, seperti yang sudah dipesan mama, aku disuruh untuk menelfonnya. “Assalamu’alaikum ma” sahutku. “Wa’alaikumsalam”. “Fi udah mau berangkat ni, udah di dalam kapal” seru ku. “Iya, hati-hati, baca do’a, titip salam sama kak rossi, uwo” kata mama. “Iya ma, assalamu’alaikum”, telfon langsung ku tutup. Hampir lama ku berada di dalam speed boat, sampailah aku di pelabuhan bandar sri laksamana Bengkalis. Yuhuuuu!!! Dan langsung dijemput. Siapa yang gak bahagia setelah berapa hari pisah sama orangtua, dari yang awalnya, gak pernah pisah-pisah!!!
Sesampainya di rumah mbah, di jalan wonosari Barat, “Maaaa.....” teriakku memasuki rumah. “Kok teriak-teriak? Gak baik teriak-teriak” nasihat mama. “Hehe, ndak ada...” jawabku sambil cengengesan. Ku lihat sekeliling rumah. “Ayah kapan pulang ma?” tanya ku. “Belum tau lagi do pi, belum nampak sakitnya”. Jawaban mama yang sedih, membuatku pilu telah menanyakannya. Aku hanya bisa berdo’a “semoga ayah cepat sembuh, semoga Allah mengangkat penyakitnya” sahutku dalam hati sambi; tersenyum menahan airmata.
Sudah hampir, seminggu ayah di RS Malaka, kalau tidak salah rumah sakit itu bernama medika. RS itu tidak bisa mendeteksi apa penyakit ayah sebenarnya. Hingga, keluarga berinisiatif membawa ayah pulang. Sudah 2 minggu ayah di rumah sakit. Seminggu di RSUD Pekanbaru, dan seminggu lagi di RS Malaka. Untuk hari-hari berikutnya, ayah di rawat di rumah mbah. Dengan penuh sabar mama merawat ayah. Ayah masih bisa tertawa, membuat lucu. Ku tahu, ayahku memang hebat. Bisa tersenyum, tertawa dibalik cobaan dan ujian yang ia dihadapi. Dan aku masih sibuk dengan sepeda-sepedaanku.
2 minggu sudah ayah di rawat di rumah, dengan menggunakan impus, dan sebagainya, dan kini sudah tiada terlihat bekas tali impus (tali rafia yg sengaja ditarik untuk memutuskannya). Terkadang aku heran dan bertanya-tanya di dalam hatiku, “walau ayah terbaring lemah dan tak bisa apa-apa, ayah tak pernah berkeluh kesah”. Hingga ayah waktu itu berkata padaku, saat aku sedang bermain bersama Ririn, sepupuku!. “Fi, contoh kak ririn tu ha, pandai ceramah”kata ayah seperti itu padaku. Aku hanya menjawab “iya yah, fi usahakan, fi akan belajar”. Itu mungkin pesan terakhir ayah untuk ku selaku anaknya.
Tepat malam jam 00.00, ayah mendadak sesak nafas, ayah dilarikan ke RS, tapi..wajah ayah tetap tenang seperti tidakada kejadian, begitulah cerita mama kepadaku. Ayah selalu menyebut nama Allah, dokter mengatakan ayah dalam kondisi kritis. Tak disangka, tanggal 26 Mei 2011, jam 3 lewat, aku dan Lia, adikku, dibangunkan untuk menjenguk ayah, tapi sayang....ketika kami hendak pergi, telfon wak berdering, dan wak mengatakan “innalillahi wa inna ilaihi roji’un...”, seketika badanku lemas, namun Allah menguatkan aku.
Setelah hari itu, kehidupanku, mama, dan adikku berubah. Kami tidak lagi merasakan kehangatan seorang ayah. Aku berkata pada diriku sendiri, aku harus kuat. Dan aku menyadari banyak hal, aku diajari menjadi seseorang yang kuat, aku diajari terlebih dulu caranya terpisah dengannya (ayahku), sebelum aku benar benar kehilangannya. Karena sang pencipta tahu, bahwa ayah tak pernah benar-benar terpisah denganku, kecuali saat ayah pergi umroh.  Dan secara tidak langsung, Allah telah mengajarkanku untuk selalu tersenyum dalam keadaan apapun, dan bagaimanapun caranya.
Di setiap sujud, ku menangis seraya berdo’a, ku meminta pada Yang Maha Kuasa, suatu ketabahan yang luarbiasa untuk ketetapan hati, untuk setiap senyuman dibalik air mataku ini. Dan selalu ku harap keajaiban dari-Mu Ya Allah, aku harus hidup seperti bintang yang bersinar dikala gelap! Sehingga, tidak ada yang tahu, bahwa aku sedang menangis, yang mereka tahu hanyalah, aku adalah seorang gadis yang selalu tersenyum J.

nb: ini kisahku, kisah seorang anak negeri junjungan. semoga Allah menjaga ayah, menyayangi ayah, semoga kita sekeluarga dipertemukan kembali ke Jannah-Nya.

You Might Also Like

0 comments