Air
Mata di Balik Senyuman
By: Shofia Nurul Hidayah
By: Shofia Nurul Hidayah
Suara deru motor yang
mengaum-ngaum di kala subuh menjelang itu membangunkan aku dari tidur malam ku.
Tepat pukul 05.00 WIB. Aku bangun dari kasur empukku, membuka pintu kamar dan
menuju kamar mandi. Tak berapa lama kemudian aku keluar dari dalamnya.
Terdengar suara ayah dan mama yang memanggilku, “Fi, mama sama ayah ke pasar
dulu ya? Hati-hati di rumah” lalu ku sahut “iya ma...”. Dengan begitu, aku
berlalu melaksanakan sholat subuh. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 06.10 WIB,
mama dan ayah telah pulang dari pasar. Ayah yang waktu itu telah sakit batuk
beberapa hari terakhir ini, harus pergi ke pasar untuk membeli dagangan.
“Ma, Yah, fi berangkat ke
sekolah dulu ya...” pamitku kepada mereka, orang tua ku. “Iya, hati-hati, belajar
yang rajin” begitulah pesan orang tua kepada ku. Hingga tiba saatnya aku
pulang, aku mendapati ayah yang sedang duduk di sofa. Aku bertanya padanya,
“ayah sudah makan?”, jawaban dari pertanyaan ku diambil alih oleh mama, “ayah
tak makan, ayah mual mencium bau nasi dan makanan”. “Hmm, kalo begitu fi makan
ya...” Aku yang waktu itu terkenal cuek dan tak terlalu peduli dengan orang
lain pun merasa hal tersebut biasa-biasa
saja”.
Tibalah hari terus berlalu,
dan sakit ayah bertambah parah, namun ayah masih sangat bisa tersenyum di balik
rasa sakitnya. Malam tanggal 26 April 2011, ayah drop, ayah pingsan (tak
sadarkan diri), ayah dibawa ke RSUD oleh para tetangga, saat itu aku
enak-enakan tidur. Keesokan harinya, aku dibangunkan oleh mama.
“Fi, bangun! Sholat subuh
dulu” sahut mama dari luar kamar ku. Dengan mata masih mengerjap-ngerjap, aku
menjawab “iya ma, sebentar”. Aku keluar kamar dengan langkah gontai, menuju
kamar mandi, lalu memakai pakaian sekolah. Namun, ketika aku telah bersiap-siap
mengenakan pakaian sekolah, mama berkata “hari ini libur dulu ke sekolahnya”,
dengan heran aku menjawab “kenapa fi tak sekolah ma?”, mama yang sudah
bersiap-siap mengatakan “kia bertiga lihat ayah hari ini”.
Dan saat itulah, aku baru
menyadari bahwa ayah tak berada di rumah, langsung ku tanyakan, “ayah dimana
ma?”, “Ayah di RSUD Pekanbaru” jawaban itulah yang keluar dari mulut mama.
Betapa sedihnya aku, mama, dan adikku, Lia. Hari itu, kami berangkat ke RSUD
dengan menaiki taksi milik tetangga. Jauh dari dasar lubuk hatiku yang paling
dalam, aku merasakan tanggal 26 April 2011 itu sangat lambat berlalu.
Setibanya kami di RSUD
Pekanbaru, menyusuri trotoar mencari ruangan ayah. Ketika hendak menaiki tangga
berikutnya, dimana ruangan ayah di rawat, kami bertiga dihalangi oleh seorang
satpam. “Mau kemana bu?” tanya satpam pada mamaku. “Mau ke atas ruangan
ayahnya” jawab mama. “Maaf bu, untuk anak di bawah umur 12 tahun, tidak boleh
naik ke atas!” sang satpam memberikan peringatan. Ingin rasanya ku bertanya
mengapa tidak diperbolehkan, namun ucapan itu hanya berada di dalam hatiku.
Namun, pak satpam langsung memberikan pengertian, seperti mampu membaca
pikiranku, atau karena melihat muka sangar ku kali yaa..., “ruangan atas ini
adalah ruangan penyakit yang disebabkan oleh virus bu” begitulah kira-kira pak
satpam menuturkan.
Tapi, secara diam-diam, ketika
pak satpam tidak sedang berjaga, mama mengajak ku dan Lia adikku naik ke atas.
Betapa terkejutnya aku saat itu. “Ayah....” begitulah ucapku setelah melihat
kondisi ayah. Seolah-olah tidak menyangka, ayah akan diinap di RS dan ayah
diinpus. “Iya fii...” sapa ayah terhadapku. “Ayah udah baikan?” tanya ku
takut-takut. “Udah mendingan kok” tutur ayah sambil tersenyum. Dan aku masih
tak menyangka, di saat ayah menahan rasa sakitnya, ayah masih sangat bisa
tersenyum dan membuat tingkah lucu. Ayahku memang begitu. Tiba-tiba adikku, si
Lia menangis ketakutan. “Sini dekat ayah, jangan takut, ayah gak apa-apa doo”
dengan nada lembut ayah membujuk Lia. Akhirnya Lia pun mendekat. Betapa aku ingin
menangis saat itu. Belum cukup lama kami di ruangan itu, pak satpam sudah cukup
tahu kami berada di dalamnya. “Sudahlah pak, biarkan anak-anakku bersama
ayahnya!” tegas mama. Pak satpam tidak berkata apa-apa mendengar ucapan mama.
Setelah beberapa jam bersama
ayah, aku terpaksa pulang, karena aku harus menghadapi dan mengikuti UAMBN DTA
AL-MUHAJIRIN. Hari UAMBN pun tiba. Betapa sedihnya aku, tak bisa salam dengan
orangtua ku, karena mereka berada di RS. Di rumah, ku tinggal sama kak rosi,
kakak yang kerja di rumahku. Ujianku amburadul (baca: acak-acakan), berantakan,
kacau, fikiranku entah dimana dan kemana. Hingga hari terakhir UAMBN ayah
dibawa pulang ke rumah, karena tiada perkembangan. Tanpa terasa sudah 7 hari
ayah di rawat di rumah sakit. Betapa senangnya aku mendengar berita itu. Di
perjalanan pulang, saat di angkot, “eh, langsung ke rumah ya? Kawan-kawan gak
berhenti disini?” tanyaku pada kawan-kawan MDA ku. “Ndak fi, kami mau jenguk
Pak Zul.” Jawab mereka.
Setibanya di rumah, pintu
rumah ku buka lebar. “Masuklahh...” ucapku kepada mereka. “Aman tu sop!” jawab
mereka sambil cekikikan. “Assalamu’alaikum pak Zul....?” kawan ku memasuki
rumah dan langsung masuk ke kamar ayah. “Wa’alaikumsalam, wahh...ramai” heran
ayah. “Iya pak, bapak sakit apa pak?” tanya seorang kawanku sekaligus murid
ayahku. “Oh iyaa, maaf sebelumnya, bapak tak bisa menemani kalian ujian di
sekolah lain, sakit hepatitis kata dokter” jawab ayah. “iyalah pak, cepat
sembuh ya pak” murid-murid ayah sambil menyalami tangan ayah satu persatu pamit
pulang. “iya.. terimakasih ya....” senyum ayah pada mereka.
Keesokan harinya, tepat
tanggal 06 Mei 2011, keluargaku memutuskan untuk membawa ayah berobat ke Malaka
(Malaysia). Aku tersenyum karena itu semua demi kebaikan ayah, walau ku tahu
aku akan ditinggal. Hari itulah mereka sibuk bersiap-siap, menyiapkan pasport
untuk ayah, dan hal lainnya yang diperlukan. Sore harinya, mereka hendak
berangkat, perasaanku hancur berkeping-keping saat itu, karena apa? Karena aku
menahan rasa tangisku. Aku tak diizinkan ikut. “Ma, Yah, fi mau ikut!”
rengekku. “Jangan, tanggal 10 Mei besokkan UN!” kata mama. “Tapi fi mau ikut!”
pintaku pada mereka. “Lepas ujian aja langsung nyusul ke Bengkalis (salah satu
kabupaten yang ada di provinsi Riau, yang merupakan kampung halamanku), sama
kak rosi dan uwo (nenek dari ayah)” kata ayah. Mau tak mau, suka tak suka, aku
harus mengiyakan, aku terlalu banyak membantah. Pergilah mereka meninggalkan
aku bersama mereka berdua.
Dan aku teringat, padahal
nanti malam adalah pergantian umurku, bertambahnya umurku, tapi orang-orang
yang ku sayang tak berada di dekatku, kami dipisahkan oleh lautan. Tanggal 07
Mei, tanggal ultahku kali ini tidak menyenangkan, kenapa ya Allah? Pertanyaan
dalam hatiku. Dan malam itu sebelum tidur, aku berdo’a dan aku sangat berharap
kepada-Mu, aku yang akan berulangtahun esok hari , hanya meminta “sembuhkan
ayahku Ya Allah” begitulah pintaku dengan memejamkan mataku. Tepat tanggal 07
Mei, betapa mirisnya hidupku, tidak ada yang ingat hari itu. Tiba-tiba sesampainya
di rumah, mama menelfonku, “lagi apa pi?” tanya mama. “Ni lagi belajar aja ma”
kataku sekenanya, hp mama memang sengaja ditinggal untuk ku agar mudah
menghubungi ku. Aku yang waktu itu sudah kelas 6 SD pun belum dikasi memegang
hp, berbeda dengan anak zaman now. “Ya udah, belajar yang betul-betul, selamat
ulangtahun ya fi, jadi anak yang sholehah, yang rajin, jangan lupa do’ain ayah
biar cepat sembuh” seru mama. Seketika butiran air menetes di pipiku, “Iya ma,
pasti fi do’ain ayah” dalam hatiku. “Ya udah, jangan nangis, bikin ayah
bangga.” Sahut mama memberi nasehat. “Enggak nangis do ma..ayah udah di malaka
ma?” tanyaku merasakan gemetaran di tubuhku. “Udah pi, pergi sama wak (abang
dari mamaku)”. Aku terdiam beberapa saat. Membayangkan sedang apa ayah di negri
orang?, “lanjutlah belajarnya ya, salam untuk kak rosi sama uwo,
assalamu’alaikum” mama pun langsung menutup telfon dari seberang sana.
“Wa’alaikumsalam” jawabku.
Tak berapa lama kemudian,
nomor asing menelfonku, dengan takut-takut aku mengangkatnya. Ternyata itu
adalah nomor ayah di malaka. “Assalamu’alaikum shofi, lagi ngapain pi?” tanya
ayah. “Wa’alaikumsalam, lagi belajar yah” tanpa sadar aku menjatuhkan lagi
butiran air mata yang tak bersalah. “Belajar yang rajin ya, bentar lagi tu ujiannya,
selamat ulangtahun ya pi, semoga jadi anak yang kuat, anak yang berbakti ya,
do’akan ayah disini” kata ayah. “Iya yah, mbak (begitu panggilanku sebenernya
di rumah) selalu doakan ayah, makasii yah”. Lalu ayah memberiku peringatan
tentang rumah yang harus dikunci saat ditinggalkan nanti, minta tolong sama om
has, atau siapa-siapalah, begitu kata ayah. Aku tau, ayah masih bisa tertawa
dengan apa yang sedang dilewatinya.
Hari ujianpun tiba, sungguh
semangat aku mengerjakan soal-soal itu. Tapi, yang ku tunggu adalah hari ketiga
UN, yaitu tanggal 12 Mei. Dimana, aku dijanjikan pulang ke Bengkalis sama mama.
Aku bahkan tidak ingat dengan teman-temanku yang sebenernya akan kutinggalkan.
Aku pulkam tanpa berpamitan sama mereka. Tepat tanggal 12 Mei, pukul 12 lewat,
aku packing untuk pulkam.seketika itu, aku ditelfon mama, “hallo,
assalamu’alaikum” kataku. “wa’alaikumsalam udah ke pelabuhan sungai duku
(merupakan pelabuhan yang ada di pekanbaru)?” tanya mama bersemangat. “Tenang
ma, ini lagi siap-siap, nunggu taksi ayah kak ayu (taksi tetangga ku), ma!”
jawabku pasti. “Iyalah mbak, kalo udah berangkat kasi tau nanti!” seru mama
dari ujung telfon. “iya ma” jawabku senang bukan kepalang. Tiba-tiba terdengar
bunyi klakson taksi “teeeettt...teeeettt”. “iya, tunggu sebentar om, nutup
pintu dulu” tiba-tiba saja aku teringat pesan ayah waktu nelfon malam itu. “iya”
jawab om taksi dari luar, yang masih tetanggaku juga. “Kak, Uwo, ayok! Udah dijemput
sama om taksi tu, cepatlahhh” kataku kepada mereka.
Setibanya, di pelabuhan sungai
duku, seperti yang sudah dipesan mama, aku disuruh untuk menelfonnya. “Assalamu’alaikum
ma” sahutku. “Wa’alaikumsalam”. “Fi udah mau berangkat ni, udah di dalam kapal”
seru ku. “Iya, hati-hati, baca do’a, titip salam sama kak rossi, uwo” kata
mama. “Iya ma, assalamu’alaikum”, telfon langsung ku tutup. Hampir lama ku
berada di dalam speed boat, sampailah aku di pelabuhan bandar sri laksamana
Bengkalis. Yuhuuuu!!! Dan langsung dijemput. Siapa yang gak bahagia setelah
berapa hari pisah sama orangtua, dari yang awalnya, gak pernah pisah-pisah!!!
Sesampainya di rumah mbah, di
jalan wonosari Barat, “Maaaa.....” teriakku memasuki rumah. “Kok teriak-teriak?
Gak baik teriak-teriak” nasihat mama. “Hehe, ndak ada...” jawabku sambil
cengengesan. Ku lihat sekeliling rumah. “Ayah kapan pulang ma?” tanya ku. “Belum
tau lagi do pi, belum nampak sakitnya”. Jawaban mama yang sedih, membuatku pilu
telah menanyakannya. Aku hanya bisa berdo’a “semoga ayah cepat sembuh, semoga
Allah mengangkat penyakitnya” sahutku dalam hati sambi; tersenyum menahan
airmata.
Sudah hampir, seminggu ayah di
RS Malaka, kalau tidak salah rumah sakit itu bernama medika. RS itu tidak bisa
mendeteksi apa penyakit ayah sebenarnya. Hingga, keluarga berinisiatif membawa
ayah pulang. Sudah 2 minggu ayah di rumah sakit. Seminggu di RSUD Pekanbaru, dan
seminggu lagi di RS Malaka. Untuk hari-hari berikutnya, ayah di rawat di rumah
mbah. Dengan penuh sabar mama merawat ayah. Ayah masih bisa tertawa, membuat
lucu. Ku tahu, ayahku memang hebat. Bisa tersenyum, tertawa dibalik cobaan dan
ujian yang ia dihadapi. Dan aku masih sibuk dengan sepeda-sepedaanku.
2 minggu sudah ayah di rawat
di rumah, dengan menggunakan impus, dan sebagainya, dan kini sudah tiada
terlihat bekas tali impus (tali rafia yg sengaja ditarik untuk memutuskannya). Terkadang
aku heran dan bertanya-tanya di dalam hatiku, “walau ayah terbaring lemah dan
tak bisa apa-apa, ayah tak pernah berkeluh kesah”. Hingga ayah waktu itu
berkata padaku, saat aku sedang bermain bersama Ririn, sepupuku!. “Fi, contoh
kak ririn tu ha, pandai ceramah”kata ayah seperti itu padaku. Aku hanya
menjawab “iya yah, fi usahakan, fi akan belajar”. Itu mungkin pesan terakhir
ayah untuk ku selaku anaknya.
Tepat malam jam 00.00, ayah
mendadak sesak nafas, ayah dilarikan ke RS, tapi..wajah ayah tetap tenang
seperti tidakada kejadian, begitulah cerita mama kepadaku. Ayah selalu menyebut
nama Allah, dokter mengatakan ayah dalam kondisi kritis. Tak disangka, tanggal
26 Mei 2011, jam 3 lewat, aku dan Lia, adikku, dibangunkan untuk menjenguk
ayah, tapi sayang....ketika kami hendak pergi, telfon wak berdering, dan wak
mengatakan “innalillahi wa inna ilaihi roji’un...”, seketika badanku lemas,
namun Allah menguatkan aku.
Setelah hari itu, kehidupanku,
mama, dan adikku berubah. Kami tidak lagi merasakan kehangatan seorang ayah. Aku
berkata pada diriku sendiri, aku harus kuat. Dan aku menyadari banyak hal, aku
diajari menjadi seseorang yang kuat, aku diajari terlebih dulu caranya terpisah
dengannya (ayahku), sebelum aku benar benar kehilangannya. Karena sang pencipta
tahu, bahwa ayah tak pernah benar-benar terpisah denganku, kecuali saat ayah
pergi umroh. Dan secara tidak langsung, Allah
telah mengajarkanku untuk selalu tersenyum dalam keadaan apapun, dan
bagaimanapun caranya.
Di setiap sujud, ku menangis
seraya berdo’a, ku meminta pada Yang Maha Kuasa, suatu ketabahan yang luarbiasa
untuk ketetapan hati, untuk setiap senyuman dibalik air mataku ini. Dan selalu
ku harap keajaiban dari-Mu Ya Allah, aku harus hidup seperti bintang yang
bersinar dikala gelap! Sehingga, tidak ada yang tahu, bahwa aku sedang
menangis, yang mereka tahu hanyalah, aku adalah seorang gadis yang selalu
tersenyum J.
nb: ini kisahku, kisah seorang anak negeri junjungan. semoga Allah menjaga ayah, menyayangi ayah, semoga kita sekeluarga dipertemukan kembali ke Jannah-Nya.
0 comments